ff yoonhae – Can’t You See Me ? (part 5)

Gambar

——————————————————————————————————————————————————–

anyeong reader….

ga kerasa ya udah masuk part 5, padahal awalnya author cuma pengen bikin one shoot loh, tapo malah kebablasan gini…

hahahaa

terimakasih buat reader yang dengan setia menunggu kalenjutan ff ini…

lanjut?

yuk kita langsung ke inti aja

happy reading reader….

=================================================

Disinilah aku berada sekarang, pantai dengan pasir putih terhampar sejauh mata mandang, indah seperti kristal jika tertimpa sinar matahari. Keindahan ini tampak lebih sempurna ketika melihat namja yang telah merebut hatiku, memusatkan duniaku untuknya tengah duduk persis di sebelahku. Tuhan, jika aku boleh dengan lancang memohon, aku ingin saat saat ini tak pernah berakhir, aku ingin seperti ini selamanya, bersamanya.

Senyumku terkulum, membuat permohonan bodoh seperti ini bukanlah permohonan yang layak diajukan oleh seorang jaksa yang seharusnya memiliki pemikiran yang logis. Tapi apalah daya seorang jaksa jika ia tengah jatuh cinta, meskipun dengan seorang namja yang sama sekali tak ada hak ku untuk menyukainya. Namja yang notabene adalah tunangan dari sahabatku sendiri, Jung Jessica, dan mereka dalam itungan hari akan resmi menjadi sepasang suami istri. Suatu hubungan yang tidak bisa dipermainkan.

“wae? Neo gwenchana?” donghae oppa membuka pembicaraan yang sedari tadi kami berdiam diri menikmati pemandangan laut yang indah, donghae oppa  menyapukan tangannya ke dahiku, mengusapnya, memeriksa apa aku baik baik saja.

Ah, kenapa siksaan ini begitu berat. Apa aku sudah salah dengan menerima ajakannya berakhir pekan di mokpo, aku hampir lupa dengan tujuan kami sebenarnya disini. Melihatnya begitu dekat denganku saat ini mungkin bisa membuat kerja jantungku dua kali lebih berat. Cobaan yang sangat aku nikmati saat bisa lebih lama melihat wajahnya.

bagaimana bisa seorang namja memiliki wajah yang begitu tampan? Mungkin namja ini adalah titisan dewa yang paling tampan sejagad raya, hah! Fikiranku mulai terkena virus, detik berikutnya aku baru menyadari donghae oppa masih menatapku dengan ekspresi cemas menunggu jawaban yang bahkan akupun lupa apa yang ia tanyakan padaku.

“eo? Kenapa oppa?”

“apa kau baik baik saja? Ku perhatikan sedari tadi kau terus terus menghela nafas, gwenchana?”

“ne, nan gwenchana oppa” ku sungging kan senyumku dan donghae oppa membalas tersenyum padaku begitu manis, jika tak ada tulang yang menyangga tubuhku mungkin saat ini aku akan meleleh.

Author POV

Kecanggungan masih sedikit terlihat diantara mereka berdua, meskipun begitu tak mengurangi suasana hangat yang meliputi hati merka berdua walau cuaca di pantai saat ini begitu sejuk.

“yoong”

“ne?” reflek yoona menjawab dengan lantang, donghae yang melihat reaksi yoona tergelak dan mengacak acak rambut yoona gemas.

“bogoshiposo”

Yoona memandang heran namja di sebelahnya itu

“bogoshiposo yoong”

“bukankah aku sudah ada di depanmu oppa, kau masih merindukanku?”

Donghae mengangguk

“aku merindukan kau yang dulu”

“maksud oppa?”

“aku merindukan pertemuan pertama kita di lorong kampus, aku merindukan semua moment yang pernah kita lewati saat masih di bangku kuliah”

Yoona tersenyum sendu mendengar pernyataan namja itu.

“tentu oppa, aku juga merindukan saat saat itu, kau adalah sahabat terbaikku”

Seketika raut donghae berubah suram

“yoong”

“hm?”

“kau tahu kenapa aku mengajakmu kemari?”

“ani, wae?”

Donghae menghela nafas dan melanjutkan bicaranya

“kau tahu, rumah ini aku bangun untukmu?”

“mwo? Jangan bercanda oppa” yoona terbahak namun tersirat nada gugup di dalamnya

“ani, aku tidak bercanda, kau tahu yoong, sejak dulu aku mencintaimu”

Donghae POV

“mwo? Jangan bercanda oppa” yoona terbahak namun aku tahu, yeoja ini tengah gusar dengan ucapanku barusan

“ani, aku tidak bercanda, kau tahu yoong, sejak dulu aku mencintaimu”

Hah, akhirnya aku bisa mengucapkan kata kata ini setelah sekian lama aku pendam, seperti melepas beban yang begitu berat setelah aku mengungkapkan perasaanku.

Yoona tak lagi memandangku, wajahnya kini tertunduk, tak ada kata kata lagi yang keluar dari mulutnya.

“wae? Wae oppa? Wae kau mengatakannya sekarang”

Deg! Tak ada jawaban yang bisa ku berikan. Ia benar, kenapa aku tidak menyatakan perasaanku sedari dulu.

Yoona kini menatapku, menanti jawaban atas pertanyaan yang ia lontarkan. Tapi bibirku kelu, tak ada satupun kata yang lolos dari kerongkonganku. Diam.

“wae? Ini sudah sangat terlambat oppa”

Air mata yang membasahi pipi yoona semakin deras berhamburan. Tapi tak ada yang mampu kulakukan, babo donghae! Lakukanlah sesuatu!

Ku usap air mata yang membasahi pipi mulus yeoja di hadapanku ini.

“mianhae… mianhae yoong, uljima jebal”

Yoona tak menggubris perkataanku malah mengalihkan pandangannya, kini ia memandang ke arah laut, menerawang.

“aku tahu, aku terlalu pengecut untuk mengatakannya”

Yoona hanya tersenyum miris mendengar jawabanku

“kau tidak pengecut saat bersama Jessica oppa”

“aku kira kau yang menginginkanku bersama Jessica” ucapku jujur

Yoona langsung berbalik memandang kedalam maaku saat aku mengucapkannya

“aku kira kau tidak tertarik padaku yoong, kau tahu, hatiku sangat hancur saat melihatmu membiarkan Jessica mendekatiku”

Air mata yoona kembali menetes, namun langsung ku usap lembut pipinya.

“kau terlalu banyak mengira oppa, apa oppa fikir hatiku tidak hancur saat Jessica mendekatimu dan menyatakan perasaannya tepat dihadapanku? Dan… aku fikir namja seperti oppa tidak mungkin tertarik pada yeoja sepertiku”

Ku usap lagi air mata yang menetes di pipi putih yeoja di hadapanku ini.

Ku hela nafasku mendengar jawaban yang ternyata semua adalah kesalah pahaman belaka yang berakibat fatal untuk hubungan kami.

“yeoja seperti apa yang kau maksud yoong?”

“yeoja sepertiku, tidak populer, tidak cantik, tidak feminism, tidak manis dan terlalu banyak kekurangan” suara yoona melemah dan berakhir dengan senyuman miris tersungging.

“selama ini ternyata kau tidak benar benar melihat dirimu sendiri yoong? Apa kurang jelas perhatian yang aku beri padamu? Apa kurang kuat sinyal sinyal cinta yang aku kirimkan padamu sehingga kau masih tidak menyadari perasaanku? Saranghae”

akhirnya ku kata kata itu lolos dari bibirku, mengucapkan sebuah ungkapan cinta yang selama ini ku pendam dan hanya bisa ku teriakan di hati.

Yoona menggelengkan kepalanya mendengar penyataanku, wae? Dengan susah payah aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku yang sudah begitu lama ku pendam untuknya, kenapa ia seperti tidak ingin mendengarkan ucapanku.

Yoona POV

“selama ini ternyata kau tidak benar benar melihat dirimu sendiri yoong? Apa kurang jelas perhatian yang aku beri padamu? Apa kurang kuat sinyal sinyal cinta yang aku kirimkan padamu sehingga kau masih tidak menyadari perasaanku? Saranghae”

Andwae… andwae ! maldo andwae! Jebal jangan mengucapkan kata kata itu, sungguh aku tak ingin mendengar kata kata itu sekarang, ini sudah sangat terlambar untuk saling mengungkapkan perasaan kami.

Ku gelengkan kepalaku menepis kata kata yang ku dengar

“andwe oppa. Jebal jangan katakan lagi” air mata yang sedari tadi tak mampu ku bendung kembali membasahi pipiku

“wae yoong? Mianhae aku memang terlalu pengecut untukmu tapi jebal, dengarkanlah sekali saja apa kata hatimu”

“ini salah oppa, ini sangat salah, tidak seharusnya sejak awal aku menerima ajakanmu kesini”

Aku tegakkan badanku yang sedari tadi hanya menunduk menutupi wajahku yang berlinang air mata, beranjak dari tempat yang aku duduki sekarang, tapi tanga donghae oppa menahanku.

Ku coba untuk melepaskan genggaman tangannya, tapi yang ada malah genggaman tangannya semakin erat dan tidak menyisakan ruang untuk memberontak.

“lepaskan oppa, jebal”

“tidak “

Ku hempaskan lagi tubuhku terduduk di samping samja yang masih menggenggam erat pergelangan tanganku, tidak sakit memang, hanya sedikitl dibanding dengan rasa sakit yang ku rasakan di dalam hati, hal ini tidak berarti apa apa.

“kau tahu kenapa aku membuat villa putih di pinggir pantai? Itu karenamu, setelah kau pergi meninggalkanku, pergi dari korea aku sangat tersiksa yoong, maka ku buat vila ini sebagai peliput lara dengan harapan suatu hari nanti aku akan berada disini bersamamu, menghabiskan hari hariku dengan yeoja yang aku cintai”

Pening, sakit hatiku mendengar ucapannya, tak ada kata yang bisa aku ucapkan, air mataku terlalu deras dan dadaku sesak untuk berbicara.

“oppa, aku”

“sampai sekarangpun aku tak bisa menyerah untuk mencintaimu, aku tahu tak ada hak untukku mencintai yeoja luar biasa sepertimu yoong, bahkan Jessica pun tak mampu mengalihkan pikiran dan hatiku dari mu”

Deg! Jessica, sahabatku. Bagaimana jika ia tahu tentang hal ini.

“geumanhae oppa, jebal”

Tak ada jawaban dari donghae oppa,

“meskipun sekarang kita tahu perasaan masing masing apa gunanya oppa? Sebentar lagi dalam itungan hari kau akan melangsungkan pernikahanmu dengan Jessica”

=======

( di suatu tempat )

Seorang yeoja yang memiliki perawakan langsing dengan mantap menginjakan kakinya di jalan beraspal setelah turun dari bus. Ia melangkahkan kaki jenjangnya menyusuri jalan dan menyebrangi jalan tersebut, angin yang semilir menerpa tubuhnya dan mengibarkan rambutnya yang berwarna pirang.

Tak butuh waktu lama yang ia buruhkan untuk mencapai tujuannya, rumah keluarga Lee. Ya, yeoja itu adalah Jessica, ia kini berada di mokpo.

Jessica memencet bell dan tak lama kemudian yeoja paruh baya membukakan pintu untuknya.

“anyeonghaseyo ommonim” ucapnya seraya mambungkukan tubuhnya memberi hormat pada yeoja yang ia panggil ommonim, tak lain adalah calon ibu mertuanya, nyonya Lee.

“omo, neo? Kenapa tidak memberi kabar kalau mau kesini?”

Jessica hanya tersenyum mendengar perkataan calon sieomoni nya itu

“masuklah”

Jesssica mengikuti nyonya lee memasuki rumahnya.

“kau sendiri?”

“ne ommonim, aku ingin memberi kejutan pada donghae oppa, maka dari itu aku menyusulnya kesini”

“donghae?”

“ne, ommonim, dimana oppa sekarang ommonim?”

“dia tidak pernah kesini”

“nde? Tapi donghae oppa berkata ia akan pulang ke mokpo akhir pekan ini”

“benarkah? Tapi dia tidak pulang kesini”

‘Apa maksud ommonim, apa donghae oppa membohongiku?’ batinnya

Jessica POV

“cham, apa dia ke vila?” omomim bergumam tapi masih jelas terdengar oleh ku

“nde? Villa? Villa siapa ommonim?”

“ani, hanya tebakan saja… biasanya dia kalo ke mokpo akan singgah ke villa nya, tak jauh dari sini”

“benarkah? Tapi, untuk apa oppa menyewa villa di mokpo?”

“dia tidak menyewa, shhh, apa kau tidak tahu donghae memiliki villa disini? Aigoo, bahkan sebentar lagi kalian akan menikah kau masih belum tahu semuanya tentang anakku”

Aku tertegun mendengar perkataan calon ibu mertuaku itu yang memang sedikit agak sinis terdengarnya, tapi itu sudah biasa ku hadapi. Karena rasa cintaku pada donghae oppa aku bisa menerima perlakuan sinis dari ibunya, tapi sebenarnya beliau adalah pribadi yang hangat, hanya terlalu terus terang jika berhadapan denganku.

Setelah istirahat sejenak di kediaman keluarga Lee aku pamit untuk berjalan jalan di sekitar pantai, masih tetap mencoba menghubungi donghae oppa, tapi kenapa telfon ku tak pernah dijawab, padahal nomor handphone nya aktif.

Kini aku sedikit frustasi, donghae oppa membohongiku? Dia bilang akan pulang ke mokpo, dan memang sedikit aneh, kenapa pas aku ingin ikut dengannya donghae oppa melarangku? Apakah ada hal yang tidak ku ketahui? Apakah ada rahasia yang donghae oppa sembunyikan dariku?

Kaki ku terus menelusuri pinggir pantai dengan pasir yang berwarna putih di mokpo, ku hela nafas berat berkali kali, masih mencoba menghubungi ponsel calon suamiku, tapi nihil. Tak ada hasil yang menggembirakan yang ku dapat.

Mataku menyapu pemandangan yang indah di pantai ini, hamparan pasir putih, laut biru yang membentang. Hah… andai saja ada donghae oppa di sisiku, sebentar lagi dalam itungan hari aku akan melangsungkan pernikahanku dengan donghae oppa, akhirnya impianku menikah dengan namja pujaanku akan terwujud juga, aku harap donghae oppa sudah benar benar menerimaku. Aku tak ingin dia terpaksa menikah denganku karena aku sangat mencintainya. Sangat.

Langkah kaki ku terhenti seketika saat melihat pemandangan yang asing di mataku, sepertinya aku mengenali dua orang itu, seorang namja dan seorang yeoja yang sangat familiar untukku, bagaimana mereka bisa bersama disini? Lalu kenapa mereka seperti tampak bertengkar?

Ku langkahkan kakiku lebih mendekat ke objek penglihatanku sekarang, dan kakiku terhenti sekitar 5 meter jauhnya dari mereka. Lee donghae, tunanganku sedang bersama dengan sahabat ku Im yoona! Tangan donghae oppa menggenggam tangan yoona yang sepertinya ingin menjauhi donghae oppa. Air mataku seketika meluncur tanpa pamit melihat pemandangan yang sangat menusuk mata, tangan yoona di tarik dan tubuhnya di peluk oleh donghae oppa, yoona terisak dipelukannya, tapi kenapa yoona malah membalas pelukan tunanganku itu? Dan kenapa aku hanya menonton adegan yang sangat menyakitkan ini? Lakukan sesuatu jung Jessica!

Donghae POV

“meskipun sekarang kita tahu perasaan masing masing apa gunanya oppa? Sebentar lagi dalam itungan hari kau akan melangsungkan pernikahanmu dengan Jessica”

Ya, yoona benar. Dalam hitungan hari aku akan menikahi jung Jessica, yeoja yang sekarang berstatus sebagai tunanganku, tapi bagaimanapun hatiku hanya untuk yoona, aku tak pernah bisa berpaling darinya.

Mengingat dalam beberapa hari lagi aku akan menikah adalah satu satunya kenyataan yang ingin aku ingkari, bolehkah aku pergi meningggalkan Jessica? Napeun donghae, kau sudah menyakiti dua yeoja sekaligus. Tapi apa dayaku, rasa cinta ini tak pernah bisa hilang, bahkan sudah ku coba untuk mencintai Jessica, tetap saja gagal.

“aku akan meniggalkannya” kata kata yang kejam lolos dari bibirku, membuat yeoja yang ku cintai menggeleng kuat, air mata yang membesahi pipinya pun kian deras

“andwae oppa, jebal jangan lakukan itu, kau akan menyakiti Jessica”

“tapi aku tidak mencintainya yoong”

Author POV

Yoona kini bangkit dari duduknya, tapi tangan yang menggengamnya tak mengijinkan ia pergi begitu saja.

“jebal oppa, aku tak ingin menyakiti Jessica”

“meskipun kau sendiri tersakiti? Begitu yoong? Jebal, bisakah kau sedikit egois untuk persasaanmu sendiri?”

“aku tidak bisa oppa, mian”

Yoona melangkahkan kakinya hendak meninggalkan donghae, namun tangannya di sambar donghae dan memeluk tubuh yeoja itu.

“lepaskan oppa” isakannya terdengar sangat memilukan

“tidak yoong, bisakah kau egois untuk perasaanmu terhadapku? Jebal yoong, saranghae”

Tak ada jawaban dari yoona, ia hanya terisak di pelukan donghae, perlahan yoona membalas pelukan donghae.

Tanpa mereka sadari sepasang mata tengah melihat adegan tersebut dengan berlinang air mata.

“oppa…!”

Jessica memanggil nama namja yang tengah memeluk sahabatnya dengan erat, tidak terlalu lantang karena suaranya tercekat oleh isakan yang menyesakan dadanya. Tapi suaranya masih bisa tertangkap oleh telinga kedua orang yang tengah berpelukan itu. Seketika mereka melepas pelukannya dan menghadap ke arah sumber suara.

Mata yoona dan donghae otomatis terbelalak melihat Jessica kini ada diantara mereka. Yoona serasa ingin berteriak namun tangannya segera menutupi mulutnya, hanya air mata yang semakin deras mengingat ia kini adalah seorang penghianat dari sahabatnya sendiri. Yoona melangkahkan kakinya hendak mendekati Jessica yang tak jauh dari mereka.

“sica, aku…”

“JANGAN MENDEKAT!”

Yoona semakin deras meneteskan air mata, langkah nya otomatis terhenti mendengar Jessica berteriak padanya, hatinya hancur seketika. Namun tangan donghae terulur menyentuh bahunya. Menenangkan yeoja yang kini pasti kalut dengan perasaannya.

“sica-ya,…” donghae angkat bicara, namun dipotong oleh Jessica

“neo, aku tidak menyangka kau seorang penghianat yoong! AKU MEMBENCIMU !”

Jessica POV

“sica-ya,…” donghae oppa angkat bicara kali ini, namun aku tak ingin mendengar apa apa dari mulutnya

“neo, aku tidak menyangka kau seorang penghianat yoong! AKU MEMBENCIMU !”

Mataku tertuju pada yoona yang masih berdiri mematung dengan tangan menutupi mulutnya, cih, aku tak menyangka sahabatku sendiri bisa menikamku dari belakang, menghianatiku. Ku tinggalkan mereka berdua, aku berlari sekencang kencangnya keluar dari pantai berpasir putih ini, aku terus berlari tak menghiraukan panggilan dari yeoja yang kini ku benci dibalakangku. Untuk apa mereka mengikutiku!

Aku terus berlari sampai akhirnya suara klakson mobil menghentikanku, aku tak dapat berkutik saat mobil itu semakin cepat melaju ke arahku, fikiranku kosong. 5 meter… 4 meter… 3 meter… 2 meter… tiba tiba tubuhku terpental keluar dari jalan yang membekukan fikiranku.

BRAKK!!!

“YOOOOONG !!!!!”

=========================================================

to be continued…

terimakasih buat reader yang udah baca ff ini,

mohon untuk leave comment, coz author masih dalam tahap belajar yang membutuhkan banyak masukan saran maupun kritik.

gomawo *bow

leave comment jebal😀

22 thoughts on “ff yoonhae – Can’t You See Me ? (part 5)

  1. jesssiiicccaaaaaaaaaaaa eoonnnniiii dddiiicccaaarrrriiinnn ccchhhhuuullll ooopppaaaa .nnooohhh kkatanya bawa in bekel buat wamil (?)#teriak pake toa

    hhuuaaa…jeebbaalll sica eonni sama chul oppa
    dan yoona sama donghae akhirnya ::”((

  2. thor jebal,,, jgn smp yoona kenapa2 jgn bkn yoona meninggal yah ga rela pokoknya ga rela kl yoona ampe meninggal, kasian yoona ama donghae, krn salah paham donghae nerima sica jd pacarnya😦 pokoknya YOONHAE HARUS BERSATU, pkknya hrs bersatu ga mau tau #maksa# lanjut thor, next part di tggu secepatnya^^ gomawooo🙂

  3. hello iam new reader arthor hehehe
    ff nya keren thor
    suka banget kalau nemu ff yg bisa bikin kita kebawa sama cerita ff nya hehehe
    semangat terus ya arthor
    di tunggu next part nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s