Only And Always Love You – Part 7

Gambar

anyeong haseyo reader….

fiuuh…*lap keringet

akhirnya part ini rampung juga…

mianhaeyo chingudeul, author lama banget nge post lanjutan chapter ini,

selain autor yang sok sibuk trus juga sempet mampet inspirasi,

oke deh, jangan kelamaan basa basinya, kita langsung aja ke inti oke?

happy reading…

——————————————————————————————————————

Entah mendapat kekuatan darimana aku bisa membawa donghae oppa ke jalan dan membawanya ke RS Seoul, donghae oppa kini berada di IGD, diperiksa, aku tidak diperbolehkan mengikutinya, alhasil aku hanya bisa terduduk lemas di depan pintu ruangan tersebut, air mataku seolah tak bisa berhenti mengalir meskipun berkali kali ku seka, mungkin ini efek karena sudah terlalu lama aku menahannya.

“apakah agassi keluarga pasien tadi?” seorang suster keluar dari ruangan yang mencekam itu. Ku seka lagi air mata yang menetes di pipiku dan bangkit dari kursiku.

“ye! saya kerabatnya, bagaimana keadaannya suster?” ucapku terisak

“pasien sudah mendapat pertolongan pertama, dan sudah bisa pindah ke kamar rawat, sebaiknya nona ke bagian administrasi agar pasien bisa segera pindah”

“ah, ye suster”

Sesuai petunjuk yang di berikan suster tadi aku membereskan semua administrasi perawatan donghae oppa, aku ingin donghae oppa mendapat perawatan yang bagus dan kamar rawat yang nyaman, meskipun itu memakan biaya yang cukup besar, dan itu bukan masalah buatku, yang terpenting sekarang adalah kesembuhan donghae oppa.

Ku lihat uisa keluar dari kamar rawat donghae oppa, ah, sekalian aku ingin menanyakan keadaan donghae oppa.

“changkaman uisa!” uisa yang hendak menuju ruangannya berbalik dan tersenyum padaku.

“ne? ada yang bisa saya bantu agassi?”

“ah, ye uisa, saya kerabat dari pasien yang baru saja di pindah ke kamar rawat, namanya Lee Donghae” raut wajah uisa berubah serius

“anda siapanya pasien?”

“saya tunangannya!”

“kalau begitu sebaiknya kita berbicara di dalam saja”

Dadaku sesak, mataku panas dan sepertinya air mataku sudah menumpuk dan ingin segera keluar dari peraduannya, setelah ku bungkukan badanku dan menutup pintu ruang jaga dokter yang memeriksa donghae oppa tadi aku berjalan terseok ke kamar dimana donghae oppa di rawat.

Tubuhku terkulai lemas dan ambruk seketika sebelum sempat membuka pintu kamar itu. Tak bisa lagi ku tahan sesak didadaku akhirnya tangisanku pecah, ku tutup mulutku untuk meredam isakan yang keluar dari mulutku.

Wae?

Kenapa harus donghae oppa?

Kenapa donghae oppa tidak memberitahukannya padaku?

“bagaimana kondisi oppa saya uisa?” uisa tampak bingung menjawabnya

“apakah pasien sering mimisan dan sakit di daerah dada?”

“saya tidak tahu dokter, sudah sejak lama donghae oppa menghindari saya, dan ketika saya sedang mengikutinya donghae oppa tiba tiba jatuh dan pingsan wae dokter?”

“saya belum bisa mendiagnosa yang lebih spesifik sebelum dilakukan pemeriksaan lanjutan”

“ah, changkaman, saya menemukan botol ini di tempat donghae oppa pingsan dokter” ku berikan botol yang sempat ku ambil saat menemukan donghae oppa terjatuh.

“apakah ini obat pasien? Sejak kapan ia meminumnya?”

“saya tidak tahu dokter, wae? obat apa sebenarnya itu dok?”

“sudah saya duga, ini adalah obat opoid, jenis obat penghilang rasa sakit bagi penderita kanker.”

Deg!!! Kanker??

“mwo? Kanker?”

“ne, sepertinya pasien sudah lama mengetahui kondisinya dan ia hanya meminum obat penghilang rasa sakit ini”

“saya harus memeriksa lebih lanjut dan mengkonsulkannya dengan oncologist, ahli kanker”

Apakah karena hal ini donghae oppa meninggalkanku?

Wae? kenapa ia harus menderita sendirian?

Apakah aku tak berguna untuknya?

Author POV

Yoona masih menangisi kenyataan pahit yang baru saja ia dengar dari uisa, setelah beberapa menit berlalu ia bangkit dan menghapus sisa air mata yang menetes dipipinya.

Yoona berjalan ke arah dimana kekasihnya terbaring, masih terlelap memejamkan mata, air mata yoona kembali menetes membasahi pipinya, matanya mulai tampak bengkak karena terus terusan menangis.

Drrt…drrt…

“yeoboseyo?”

“…”

“ah, mianhae, aku lupa handphone ku taruh di tas, mianhe”

“…”

“aku di rumah sakit, nanti aku telfon omma”

“…”

“aku baik baik saja kyu, aku sedang menemani donghae oppa, hiks”

“…”

“ye, donghae oppa di rawat disini”

“…”

“SeoulHospital, kau mau kesini?”

“…”

“ye”

Yoona kembali duduk di samping tempat tidur donghae, tangannya menggenggam hangat namja yang terbaring itu

“oppa, apakah kau menghindariku karena hal ini?” gumam yoona, wajahnya sendu bercampur cemas.

Beberapa menit kemudian pintu kamar terbuka, ternyata kyuhyun dan seohyun datang, mereka berdua pun tampak begitu cemas, bagaimanapun yoona dan donghae sudah seperti hyung dan eonnie untuk kedua orang itu.

“yoong…”

“kyu ya… hyunie… hiks…” yoona kembali menangis, namun lirih, ia tak ingin mengganggu donghae dengan suara tangisannya.

“eonnie, kenapa dengan donghae oppa?”

“hyunie.. hiks.. oppa… donghae oppa…”

“waee?? Kita duduk dulu, jangan terlalu dekat, nanti hyung terganggu” yoona dan seohyun menggangguk dan menuruti kuhyun untuk duduk di sofa yang terdapat di ruang rawat itu.

“ceritakan pada kami, kenapa dengan donghae hyung?”

“dia mengidap kanker… hiks” seohyun menutup mulutnya yang terkatup dengan tangan, air mata sudah menggenang di pelupuk matanya

“mwo? Jinjja?” yoona mengangguk lemah

“kanker apa? Stadium berapa? Apa kau sudah menghubungi keluarganya yoong?”

Yoona menggeleng

“mollayo, besok baru akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk lebih jelas kyu, aku juga belum menghubungi eommonim, mereka pasti sangat terpukul”

“kau benar, lebih baik menunggu hyung sadar dulu”

—-

“kau tidak pulang yoong?”

“ani, aku disini saja menjaga donghae oppa”

“kalau eonnie butuh sesuatu hubungi kami ne, besok aku bawakan pakaian ganti buat eonnie, ne”

“hm, gomawo hyunie, kalian hati hati dijalan”

“ye, geureom, kali pergi, ah, tadi aku sudah menghubungi eomma mu, dan bilang kau mungkin tidak pulang”

“ah ne, gomawo kyu ya, nanti aku telfon eomma lagi”

“geureom”

—-

Yoona POV

Sinar matahari mengusikku alam mimpiku, padahal aku bermimpi indah bersama donghae oppa, tapi bukankah kenyataan tidak selalu seburuk yang kita fikirkan? Bahkan saat ini adalah saat saat yang paling indah dalam hidupku, saat aku membuka mata, pertama kali yang ku lihat adalah namja yang begitu ku cintai meskipun dengan selang infuse yang menancap di lengannya dan wajah yang tampak sedikit lebih pucat, lebih tirus dari terakhir kali aku melihatnya.

Ku usap lembut pipinya, meyakinkan diriku ini adalah nyata, meyakinkan diriku bahwa donghae oppa tidak akan menghilang saat jam weker di rumahku berbunyi, well, ini memang bukan di kamarku. Ini kamar rawat donghae oppa, sejak semalam donghae oppa menjadi pasien di rumah sakit ini, ya kenyataan pahit yang aku hadapi lainnya adalah mengetahui status donghae oppa sebagai penderita kanker. Belum pasti kanker apa yang donghae oppa derita dan stadium berapa tingkatannya, rencananya hari ini akan di lakukan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui kondisi donghae oppa yang sebenarnya.

“yoona…” lamunanku buyar, donghae oppa mengigau dalam tidurnya.

Oppa, apa aku ada dalam mimpimu? Wajahnya berkerut, muram. Mimpi burukkah?

Ku genggam erat lengan donghae oppa, wajahnya lebih tenang, ku beranikan diriku, ku kecup punggung tangannya.

“oppa, saranghae”

Wajahnya tersenyum! Omo! Tuhan, terimakasih karena aku masih bisa melihat wajah ini tersenyum meski ia tersenyum bukan untukku.

Oppa, jeongmal bogoshipeo…

****

Tepat setelah kepergian dokter dari ruangan ini donghae oppa membuka matanya, namun bukan senyum hangat dan kata kata yang lembut yang ku dapatkan darinya.

“sedang apa kau disini?”

Dingin. ya Tuhan, kenapa donghae oppa terus bersikap seperti ini

“nde?”

“pergilah” donghae oppa memalingkan wajahnya menghindari tatapanku

“wae?”

Tak ada jawaban

“jawab aku oppa? Kenapa kau ingin aku pergi? Apa kau takut aku mengetahui rahasiamu?”

Donghae oppa masih diam, masih enggan menatapku. Tuhan, kuatkan aku.

“oppa, “

“pergi! Sebelum aku lebih membencimu” nada dingin yang ku benci dari sikapnya terus saja di perlihatkan padaku.

“andwae! Aku tidak akan pernah pergi”

Donghae POV

Terkejut. Tentu saja, ketika aku membuka mata yoona lah yang ku lihat pertama kali, aku kira aku sudah mati, mungkin itu lebih baik dari pada aku harus melihat diriku sendiri menyakiti yeoja yang ku cintai dengan mulut dan perbuatanku sendiri.

Yoona ya, kenapa kau harus sekeras itu, kenapa kau tidak menyerah saja untuk mencintaiku? Mungkin aku bisa lebih mudah untuk meninggalkan dunia ini, setidaknya tidak akan lagi membebanimu, meski aku tahu kau melakukannya karena kau mencintaiku, tapi tetap saja, merawat seorang pesakitan sepertiku pasti sangatlah melelahkan.

Apakah harus aku berlaku keras terus menerus padamu? Andwae, aku tidak bisa yoong, menghindarimu lebih mudah daripada harus berhadapan denganmu dan melihatmu meneteskan air mata karena diriku. Tuhan, lebih baik kau cabut nyawaku sekarang dari pada aku harus terus menyakiti wanita yang ku cintai ini.

“aku sudah tahu oppa, jadi, apakah karena hal ini kau meninggalkanku? Meninggalkan keluargamu dan membuat mereka khawatir?”

Deg! Apakah yoona sudah tahu penyakitku? Andwae!

“apa yang kau bicarakan? Kau! Kau selalu saja menyusahkanku, berhentilah mencampuri hidupku. Hah! Untuk apa aku ada disini? Jangan samakan aku denganmu yang banyak uang yoona ssi, ruangan ini terlalu mewah untuk namja miskin sepertiku” ku cabut slang infuse yang menacap di tanganku, darah segarpun mengalir. Perih, namun masih bisa ku tahan, dan luka seperti ini tak sebanding dengan luka yang ku torehkan dihati yoona, yeoja yang berada di hadapanku sekarang.

Mianhae… mianhae… jeongmal mianhae…

Kata kata yang baru saja ku ucapkan adalah senjata terakhirku, yoona paling tidak ingin mengungkit masalah status social, aku harap dengan aku berkata demikian ia akan membenciku, meskipun aku lebih membenci diriku sendiri karena telah menyakiti yoona.

ku raih tas ku, hanya itu miliku yang ada disini, sisanya barang bawaan yoona. Ku kuatkan diriku untuk melangkah menjauhi yoona.

“lanjutkan saja oppa” langkahku terhenti.

“kau fikir aku akan terpengaruh dengan kata katamu barusan? Kau fikir aku akan menangis meninggalkanmu dan membencimu? Tidak akan oppa! Maaf saja jika mengecewakanmu, tapi itu tidak akan pernah terjadi”

Ku rasakan ia berada di belakangku sekarang.

Tangan hangatnya menyentuh punggungku, menjalar dan memeluk erat tubuhku. Back hug, pelukan yang selalu ia berikan padaku.

Author POV

Yoona memeluk donghae, tak ada repon dari namja itu tapi juga tak ada penolakan yang diberikan, antara rasa rindu dan tekad untuk membuat yoona membencinya, membuat fikiran donghae tumpul saat kehangatan yoona memenuhi ruang hatinya yang selama ini telah ia tahan sekuat tenaga untuk hidup tanpa oksigennya.

“oppa fikir rasa cintaku hanya sedangkal itu oppa? Apa dengan oppa bersikap kasar, dan mengatakan oppa membenciku aku lantas akan membenci dan meninggalkan oppa? Eobseo!”

“kau tahu oppa, cintaku lebih besar dibanding dengan rasa benci yang kau miliki, meskipun aku tahu kau tak penah membenciku”

“…”

“hentikan sikap keras kepalamu ini oppa, kau harus segera mendapat perawatan”

“oppa…”

“hentikan, aku tak butuh perawatan itu”

“wae? apa kau ingin melanggar janjimu sendiri? Lupakah? Kau pernah berjanji akan bersamaku selamanya?”

Tak ada respon apapun dari namja yang tengah di peluk yoona itu.

“baiklah, kalau kau terus ingin berkeras kepala, aku akan memberitahukan pada omma dan donghwa oppa tentang kondisimu sekarang”

Yoona POV

Tubuh donghae oppa seketika membeku saat ku katakan aku akan memberitahukan kondisinya pada eommonim. Mianhae oppa, aku harus melakukan berbagai cara untuk membuatmu mau menjalani perawatan.

“ottae?”

“kau ingin mengancamku? Lakukanlah, lagi pula waktuku juga tidak akan lama lagi” ucapnya dingin.

Ini bukan jawaban yang aku inginkan.

Dadaku sesak, air mata menetes di pipiku tak tahan dengan pergulatan batin yang ku alami sekarang.

Isakan yang ku tahan sekuat tenaga akhirnya meruntuhkan pertahananku. Peganganku seakan melemah, tubuhku ambruk di belakang tubuh donghae oppa, bertumpu pada kakinya, seakan menyembah, memohon, itulah yang aku lakukan sekarang, persetan dengan harga diri, aku hanya ingin cintaku bisa bersamaku.

“jebal oppa, aku mohon oppa… aku mohon”

Donghae oppa berbalik, melepaskan cengkraman tanganku di kakinya, berlutut menyamai tingginya denganku yang kini bersimpuh dihadapannya. Matanya basah, apakah ia menangis untukku? Menangis bersamaku?

“wae? wae yoong? Tidak bisakan kau hanya membenciku dan melepaskanku?”

“mwo?”

“penyakitku ini tidak mungkin bisa di sembuhkan, “

“andwae! Bisa oppa, pasti bisa oppa, jebal”

Tangannya mengusap air mataku yang tak berhenti mengalir.

“kenapa kau begitu bersikeras yoong? Aku tidak ingin membebani siapapun, mianhae”

“nde? Beban? Kau fikir aku siapa oppa? Selama ini kau anggap aku ini apa oppa?”

“aku…”

“aku hanya ingin bersama dengan kekasihku, apa itu salah oppa? Aku hanya ingin menyelamatkan kekasihku, apa itu juga salah oppa? Jika aku yang mendapat penyakit itu, apakah oppa akan diam saja? Ani, aku hanya ingin bersama orang yang ku cintai oppa, jadi ku mohon oppa, lakukanlah demi aku, demi omma, demi donghwa oppa, demi abeoji di surga”

“tapi,”

“jebal oppa”

Ku peluk tubuhnya, dengan air mata yang masih mengalir dan membasahi bajunya.

“jebal oppa” ku rasakan tangan donghae oppa membalas pelukanku.

Apakah itu artinya oppa luluh?

Ku lepaskan pelukanku dan ku tatap wajahnya, mata itu, mata namja ikanku sudah kembali seperti dulu, menatapku dengan cintanya.

“demi aku, demi omma, demi abeoji di surga oppa”

Donghae oppa mengangguk, senyum favoritku tersungging di bibirnya meskipun bulir bulir bening masih menetes dari matanya.

Ku dekatkan tubuhku, ku kecup bibirnya, donghae oppa membalas kecupanku, perlahan.

Donghae POV

Kami berciuman, setelah sekian lama ku rasakan kembali bibir manis yoonaku, tak ada nafsu antara ciuman kai, yang ada hanya rasa cinta dan rindu yang ingin dipertemukan, yang saat ini sudah tak sanggup untuk ku tampung dalam hati.

Aku mencintainya, tentu saja. Posisinya tak pernah berubah sejak dulu, dan tak akan pernah berubah di masa mendatang. Beribu kali lipat rasa rindu yang ku bendung terpatahkan oleh kehangatan sentuhannya,pertahanan ego ku untuk membuatnya menjauhi dan membenciku hancur sudah. Aku tak mungkin lagi menjauhinya, tak mungkin lagi menyakiti yoonaku, oksigenku, cukup hanya sampai disini.

Ku dekap erat tubuhnya, tak ada lagi air ata yang mampu ku keluarkan, serasa kering sudah sumber air mataku.

“oppa”

“hm?”

“berjanjilah tidak akan pernah meninggalkanku lagi”

“hm, mianhae yoongie”

“ya, bukan permintaan maaf yang ingin ku dengar, bejanjilah padaku oppa, jebal”

“aku tak ingin berjanji yang tak pasti bisa ku tepati princess” ku belay rambut halusnya, namun yoona langsung melepas pelukannya dan mendongkak melihat wajahku, rautnya berubah serius.

“wae? siapa lagi yeoja yang akan oppa jadikan alasan? Mau kemana lagi oppa mau melarikan diri?”

Yoona POV

Mwo? Aku memintanya berjanji untuk tak pernah meninggalkanku dan dia tak bisa?

“wae?”

Bukannya menjawab pertanyaanku donghae oppa malah membelai rambutku, oppa selalu tahu jika rambutku dibelai seperti ini aku akan luluh dan lebih tenang, aiish.

“oppa”

“mianhae, aku hanya tak ingin memberi harapan palsu padamu princess”

Aku masih menatapnya, mencari jawaban yang harus ku dapatkan sekarang juga.

“kau sendiri sudah tahu kondisiku kan princess? Mianhae jika aku tidak bisa menepati janjiku untuk selalu bersamamu”

“andwae! Pasti bisa sembuh oppa, aku yakin oppa bisa sembuh! Aku akn cari dokter terbaik untuk menyembuhkan oppa, jadi jebal, jangan katakan hal hal seperti itu lagi oppa, jebal”

Donghae oppa tersenyum, ah, bagaimana bisa setiap gerakan donghae oppa kini menjadi bagian favorit yang selalu menyenangkan jika aku melihatnya.

“arraseo, baiklah, bagaimana jika begini ‘aku tidak akan meninggalkanmu princess, sampai kau yang meninggalkanku, dan maut yang mengambil nyawaku’ ottae?”

“hm, dan oppa tahu jika itu tak akan pernah terjadi, sampai kapanpun tak akan pernah aku meninggalkan namja ikan babo ku ini, dan yang ke dua, aku juga yakin kita akan menjadi kakek dan nenek dan hidup bahagia”

“I wish…”

Ku tenggelamkan lagi kepalaku dalam dekapan donghae oppa.

—-

Hari ini aku berkonsultasi lagi dengan dokter yang semalam memeriksa donghae oppa, sementara donghae oppa menjalani pemeriksaan.

“apa masih ada harapan untuk kesembuhan oppa saya dok?”

“harapan selalu ada untuk pasien yang ingin berjuang untuk hidup agassi, namun kita perlu mengetahui seberapa jauh perkembangan penyakit yang diderita pasien”

Setelah donghae oppa selesai menjalani pemereriksaan, ternyata donghae oppa memang betul menderita penyakit kanker hati, dari tanda tanda yang dialaminya, penyakit donghae oppa masuk ke stadium 3, air mata ku seolah otomatis keluar saat mendengar penuturan uisa, namun donghae oppa hanya bisa diam, dan berusaha menenangkanku yang mulai terisak.

“saya memiliki kenalan dokter yang ahli dalam hal ini, jika anda bersedia, saya akan membuat surat rujukan untuk di periksa lebih lanjut olehnya, namun beliau saat ini tidak berada di korea” ucap uisa

“eodiseoyo uisa? Buatkan, kami akan kesana, itu dokter terbaik bukan dokter?”

“nde, tentu saja, beliau dokter jenius dalam bidang ini, dan sekarang beliau bekerja di Rumah Sakit besar di Amerika”

“buatkan uisa, “

“yoong, jangan berlebihan, di korea juga sudah cukup bukan?”

“andwae! Kau harus segera mendapat donor dan dioperasi oppa, jebal, kali ini saja, biar aku yang memutuskannya, nde? Jebal”

Donghae oppa menurut apa yang aku inginkan, dan dokter membuatkan sebuah surat rujukan untuk kami, dan memberikan sebuah kartu nama, dan ternyata dokter ini juga orang korea rupanya, dokter ini bernama Ryeo Wook Kim. Hei, rasanya aku juga pernah melihat kartu nama yang seperti ini, tapi dimana?

Ah, aku baru ingat saat siwon oppa menemuiku waktu itu, dia memberiku sebuah kartu nama yang seperti ini, juga dengan nama dokter yang sama pula.

apakah siwon oppa mengetahui kondisi donghae oppa saat ini?

Aku harus menemuinya.

——————————————————————————————————————-

TBC.

chingudeul, author dilema buat bikin ending serie ini,

jebal leave comment + kalo bisa kasih author inspirasi biar endingnya memuaskan.

kamsahamnida chingudeul udah baca ff ini,

mian kalo banyak typo & rada gaje ceritanya,

jangan lupa leave comment ne!

anyeong!

22 thoughts on “Only And Always Love You – Part 7

  1. mengharukan….. mungkin kalau ditanya endingnya kisah seperti ini cuma 2 kemungkinan, there will be a miracle and happy ending🙂 atau sad ending🙂 pilihan ada ditangan author, setiap orang pasti maunya happy ending🙂 tapi sekali lagi pilihan ada pada author🙂 at least thank you so much🙂

  2. huhuhu~ T_T
    daebakk FF nya thor..
    sedih aku bacanya..
    kalau bisa bikin happy end ya thor.. bikin Donghae sembuh total dari penyakitnya.. ngga tega kalau sampai Donghae oppa kenapa2.. kasian Yoon oenni..
    lanjutannya jgn lama-lama ya thor!!🙂

  3. stlh nggu lama akhirnya part 7nya di update jg,,, sprt komenku di part yg lalu aku yakin kl siwon tuh tau kl donghae sakit, mknya dia ksh kartu nama dokter ke yoona. Hrs happyend yah jgn sad end thor, smoga hae sembuh total dr sakitnya dan hidup bersatu ama yoona selamanya,,,
    Next part di tggu jgn lama2 gomawo thor🙂

  4. siwon? aq lupa siapa siwon d sni sbnarny?
    ya ampun,mreka sling mlengkapi,yoona mnutupi kkurangan donghae oppa,bgtu jg sblikny…
    jd pngen nngis bcany T.T

  5. oennie mav coment sekarang
    memnk ff buatan oennie mengharukan aqw senang, oennie lanjut ya oennie
    dan haru happy ending oennie .
    aqw penggemar berat ff oennie ya .
    oennie hwaiting
    trz bikin ff yang bagus pasti kudukung tpi hrus yoonhae
    hehehe nuntut deh……. jdi nya plak.

    hahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s