I will Found Another Love – Part 1 (Sequel FF Yoonhae – Can’t You See Me)

Gambar

========================================================================

anyeong chingudeul….

mian author terlalu lama hiatus…

author ingin mencoba menyajikan cerita dengan cast yang berbeda, tapi masih nyambung dengan Cant you see me series loh,

ini sequel dengan POV full jessica,

so… happy reading!!

========================================================================

felicita dames appreciant la cuisine…”  (ini hidangan anda nona)

“merci” (terima kasih)

Pelayan yang berseragam hitam putih itu meninggalkan meja yang ku tempati setelah menyajikan makanan yang ku pesan.

Menyesap secangkir kopi dengan sepotong cheese cake di pinggir sungai Seine saat senja seperti ini menjadi poin favoritku semenjak aku berada di Paris, ya, sekitar satu bulan lalu aku memutuskan untuk merantau, melarikan diriku ke negeri yang jauh dari tempat asalku, yang memiliki sungai yang juga sama menenangkan dengan sungai yang ada di hadapanku ini.

Aku bukan seorang buronan atau seseorang yang harus menyembunyikan diriku karena tindak criminal, sebagian kalian pasti juga telah mengenalku, ya, aku yeoja yang tengah patah hati. Menyibukan diriku dengan berbagai aktifitas kantor ternyata masih belum bisa mengalihkan perhatianku terhadap rasa sakit yang ku rasakan jauh dalam lubuk hatiku. Jung Jessica, yeoja malang yang harus kehilangan kekasih sekaligus sahabatnya. Well, memang tidak sepenuhnya aku menjadi korban dalam hal ini, aku sudah merelakan namja yang ku cintai untuk hidup bahagia bersama sahabat yang ku sayangi.

Sebenarnya kehilangan namja yang sudah begitu lama menempati posisi terpenting dalam hidupku tidak lebih menyakitkan daripada harus menerima kenyataan bahwa aku dilupakan oleh sahabat yang sudah seperti saudaraku sendiri, alasan yang lebih kuat inilah yang membuatku ingin pergi meninggalkan korea dan menyibukan diri dengan berbagai kegiatan yang sedikit mengalihkan perhatianku.

Well, mungkin hanya aku yang merasa kami saling mencintai, menjalin hari hari penuh cinta dan beranggapan semua baik baik saja dibalik sikapnya memang sedikit dingin terhadapku. semula aku mengira itu memang sifatnya. Namun saat aku melihat kilat pancaran rasa cinta yang begitu besar di matanya, aku sadar, ternyata selama ini dia tak pernah menjadi dirinya saat bersamaku, dan lebih menyakitkan saat tatapan itu bukanlah untukku, melainkan untuk sahabatku, Im yoona.

Aku khianati oleh sahabat dan tunanganku sendiri. Jika hanya dari segi pandangku sendiri mungkin mereka terdengar kejam, namun setelah banyak yang ku fikirkan dari hubungan ini, ternyata aku tak jauh lebih buruk dari mereka. Aku tahu yoona, sahabatku selalu mementingkan kepentingkanku dibanding dengan keinginannya sendiri, selalu menempatkanku di prioritas utama sebelum dirinya yang membuatku menjadi begitu egois dan sangat manja padanya.

Hingga tanpa sadar aku merebut orang yang sangat ia cintai dalam hidupnya, Lee Donghae, namja yang berprofesi sama dengannya, aku memintanya menjadi namjachnguku tepat di hadapan yoona, semula aku hanya ingin menggodanya, namun seakan terbius oleh ketampanannya aku menginginkan lebih. Saat itu jujur aku tak tahu yoona memiliki perasaan khusus padanya, karena dia memang tak pernah menceritakan apapun padaku, atau aku yang memang tak pernah sempat mendengar ceritanya karena aku selalu memberondongnya dengan cerita cerita sehari hariku.

Hingga akhirnya aku menjadi tunangannya, kejadian yang sedikit memalukan sebenarnya. well, saat itu aku tak memikirkan lain selain aku ingin memiliki dirinya. Apakah dia juga mencintaiku? Molla, saat itu aku tak pernah berfikir ia mencintai yoona,

Flashback

Hari ini adalah hari ulang tahun ibunya Donghae oppa, Ny Lee. Selama aku dan donghae oppa menjalin hubungan sepertinya Ny Lee kurang begitu menyukaiku, terbukti dari sikapnya yang tidak hangat dan sedikit sinis padaku, namun aku memang bebal, tak pernah memikirkan dan mengambil pusing hal hal seperti itu, Ny Lee selalu menanyakan kabar sahabatku yoona. Saat itu tak ada sama sekali prasangka apapun yang terbersit dalam benakku. Dan aku akhirnya merencanakan sebuah pesta kecil yang hanya dihadiri oleh aku, Donghae oppa, Donghwa oppa dan Ny lee sendiri, meskipun Donghae oppa sudah melarangku membuat acara semacam ini namun lagi lagi sifat manjaku lebih dominant, tak ada yang bisa menghentikanku.

“saengil Chukha hamnida… saengil chukha hamnida… saranghaneun uri eomma, saengil chukha hamnida”

Ny Lee tampak begitu senang mendapat kejutan kecil kami, setelah lilin di tiup kami makan malam dengan tenang.

“sica ya” bisik donghae oppa yang duduk disebelahku bersebrangan donghwa oppa dan Ny. Lee

Donghae oppa menunjukan sesuatu di balik meja makan, sebuah kotak kecil, lalu ia membukanya.

“OMO!! Oppa… gomawo!!” ucapku hampir terpekik namun langsung ku bungkam mulutku dengan tanganku sendiri agar tidak terlalu berisik

“ada apa?”

“ahjuma, oppa melamarku” ucapku tersipu melirik donghae oppa yang kini entah kenapa ekpresinya sangat terkejut.

“mwo?” Ny Lee sepertinya terkejut dengan apa yang ku ucapkan barusan, ia menatapku dan donghae oppa bergantian masih dengan ekspresinya tadi. Sedangkan donghwa oppa hanya menatap ke arah kami, diam.

“mwo? Jadi ini bukan untukku oppa?” ku pegang cincin yang kini melingkar di jari manisku, yang ku sematkan sendiri ke jariku karena semenjak tadi donghae oppa hanya diam.

“mianhae, sebetulnya aku membelinya untuk hadiah ulang tahun eomma”

“jadi kau tak berniat melamarku oppa?”

“nde? Bukan begitu sica ya, tapi belum saatnya…”

“lalu kapan oppa? Bahkan ahjuma pun bersikap dingin padaku hiks” air mataku keluar

”uljimayo, baiklah, simpan saja cincin itu, aku akan membelikan yang lain untuk eomma”

“jeongmalyo? Ini boleh ku simpan oppa?” aah, gomawo oppa”

“ne”

Flashback End

Begitulah, sebenarnya secara tidak langsung aku memaksa donghae oppa untuk melamarku, aku fikir nanti ataupun sekarang sama saja, toh, kami juga bakal menikah nantinya.

Saat itu tak ada yang mengetahui kebenaran yang sebenarnya, hanya aku dan donghae oppa yang mengetahui bahwa sebenarnya kami tidak pernah bertunanagan, hanya aku yang menganggap symbol cincin yang melingkar di jari manisku ini sebagai ikatan antara aku dan donghae oppa, dan orang lain tentu saja menganggap kami benar benar sudah bertunangan. Aku yang hanya tersenyum jika orang lain menanyakan symbol yang ,elingkar di jari manisku ini, tak ada bantahan tak ada persetujuan.

====

Ku langkahkan kakiku menuju apartement yang tak jauh dari café tadi, aku memang sengaja mencari apartement di daerah ini, meski bukan sebuah rumah mewah yang seperti yoona miliki namun ini juga hal yang menjadi impianku, sebuah tempat dimana aku bisa melihat pemandangan indah di kota yang penuh dengan cinta, paris.

Jika diingat kembali, aku sama sekali jauh berbeda dengan yoona, benar, dari sifatku yang manja dan yoona yang dewasa, tempat favorit kami, makanan favorit, tapi entah kenapa kami bisa menyukai pria yang sama. Bahkan aku baru tahu jika ternyata donghae oppa membuatkan sebuah villa di pinggir pantai hanya untuk mengenang yoona saat ia masih bersamaku, miris jika harus mengingat itu semua, tak ada yang mengetahui hal itu, dan aku tak pernah tahu jika yoona menyukai rumah berwarna putih di pingggir pantai sampai aku melihat sendiri perjuangan cinta mereka, sungguh aku merasa bodoh, tolol dan buta selama ini. Sekian lama aku bersama donghae oppa, aku tak pernah menyadari bahwa cintanya bukan untukku.

Ah, sepertinya aku terlalu banyak bicara, sampai tak terasa aku sudah berada di depan gedung apartemenku. Entah hanya perasaanku saja atau bukan, sepertinya seseorang tengah mengikutiku.

“OMO!! Neo!!”

Benar saja, seseorang mengikutiku, namja berperawakan kurus dengan wajah asia sepertiku. Kini ia tersenyum memamerkan sederetan giginya padaku, matanya sanya tinggal segaris.

“untuk apa kau kesini lagi?”

“aniyo, aku hanya kebetulan lewat, jadi, sekalian saja mampir, siapa tahu kau merindukanku”

Mwo? Apa katanya? Aku merindukannya? Mustahil.

“cih, besar sekali rasa percaya dirimu tuan, sayangnya aku sama sekali tak mengharapkan kehadiranmu disini, jadi, pergilah!”

“ckck, apa kau selalu bersikap seperti ini nona jung? Seperti penyihir”

Ku layangkan tatapan membunuhku padanya. Berani sekali mengataiku penyihir! Memangnya siapa dia?

Cepat cepat ku buka pintu apartemenku tanpa merespon apa yang ia ocehkan, terlalu lelah untuk meladeninya.

“changkamanyo nona” dia menahan daun pintu yang akan ku tutup dengan tangannya

“aku tak ingin diganggu, maaf”

“aigoo, sifatmu sekarang sangat jauh berbeda dengan kemarin lusa, apa kau memiliki dua kepribadian? Yang satu bidadari, yang satu penyihir?”

“ne! aku adalah penyihir, kau puas?” ku tekan daun pintu yang masih ia tahan, namun tenaganya ternyata lumayan besar, usahaku sama sekali tak berhasil untuk mengusirnya.

“kau tak menawarkanku untuk masuk? Sekedar minum kopi misalnya?”

“mianhae tuan, tapi sekarang saya sedang tidak ingin di ganggu, apa kau tidak mengerti bahasa manusia?”

“ah, begitu? Apakah besok ada waktu untukku?”

“sekali lagi saya minta maaf tuan, saya tidak punya waktu untuk anda, so, bisakah saya tutup pintu ini sekarang?”

Lelaki itu tersenyum, aargh! Membuatku ingin memukulnya dengan sapu!

“baiklah, aku yakin kau akan pergi bersamaku besok”

“jangan terlalu percaya diri!”

“Selamat malam nona manis”

Brakk!! Ku banting pintu yang sedari tadi ingin ku tutup.

Sial! Kenapa aku harus bertemu orang itu lagi, ani, kenapa dia harus datang lagi kerumahku? Menyebalkan.

Rusak sudah mood yang ku bangun tadi, gara gara seorang namja menyebalkan bernama heechul. Entah dari mana datangnya orang itu, namja yang ku kenal kemarin lusa karena kebetulan.

Flashback

Hari ini aku lembur, banyak proyek yang harus aku selesaikan sebelum tanggal deadline bersama rekan kerjaku di kantor yang bernama Yuri, Yuri juga seorang designer asal korea, jadi aku tidak terlalu kesepian di Negara ini. hampir setiap malam aku pulang larut , beruntung lingkungan yang ku huni cukup lumayan aman dan ramai, penjagaan di daerah ini juga bagus, jadi tak ada kekhawatiran akan ada tindak criminal disini.

Aku berjalan menuju gedung apartemenku, hanya tinggal berjarak 10 meter ku lihat seseorang ambruk, tersungkur. Aku tak bisa melihat wajahnya, namun sepertinya ia seorang namja, dilihat dari pakaian yang ia kenakan.

Tak ada sesiapapun disini, apa aku harus lari?

Perlahan ku dekati tubuh yang terkulai sepertinya tak berdaya

“excuse me? Hello? Are you okay? Mister?”

Tak ada jawaban, tubuhnyapun tak bergerak, omo! Apa dia mati?

Eottokhae?

“baegopa” ucapnya lirih hampir tak terdengar

“nde?”

“baegopa, nasi…”

“mwo? Kau orang korea?”

Ku balikan tubuhnya, benar saja, wajahnya wajah asia sama sepertiku, dan dia cantik, rambutnya sedikit panjang dan berwarna pirang.

“aggassi, gwenchanayo?”

“baegopa”

“changkamanyo nona, akan ku telfon polisi ne?”

“andwe”

“waeyo? Apa kau gelandangan? Kau tidak memiliki uang? Ini, belilah makanan, ne, isi perutmu” ia menggeleng

“baegopa”

Aiish apa maunya yeoja ini, ku beri uang tak mau, ku telfon polisi tak boleh.

Dengan terpaksa ku seret tubuhnya menuju kamar apartemenku. Ia masih terkulai lemas di sofa, wajahnya pucat.

Ku buatkan bubur hangat dan semangkuk kimchi untuknya.

“agassi, ini ku buatkan bubur, ada kimchi juga untuk kau makan, ya! Nona apa kau mendengarku?”

“geureom, selimut ini bisa kau pakai, tidurlah disini malam ini, ne?”

Ku tinggalkan yeoja itu dengan bubur dan selimut untuk dia tidur, biarlah, aku yakin dia orang baik, sebagai sesama wanita dan sesama orang korea aku tidak boleh membiarkannya tidur di luar dengan cuaca yang begitu dingin seperti ini.

Tidurku terganggu dengan suara berisik dari arah dapurku, apa yeoja itu sudah bangun?

Ku langkahkan kakiku keluar kamar, dan

“AAAAARRRGGGHHH!!!!!” ada seorang namja bertelanjang dada berkeliaran di dapurku!

“ya! Bisakah kau tidak berteriak seperti itu?”

“kau, siapa kau?! Bagaimana bisa masuk rumahku!?”

“ah, kau sudah bangun? Aku hanya ingin membat sarapan, kau mau?”

“ku tanya! KAU SIAPA?”

“aaiish, apa kau lupa? Aku orang yang kau tolong tadi malam, ngomong ngomong, terimakasih atas buburnya”

“nde? Kau? Bukankah tyang tadi malam adalah seorang yeoja?”

“apa aku begitu cantik? Ini aku, namja, ah, perkenalkan Kim Heechul imnida”

Flashback end

===

sinar matahari Paris di pagi hari tak sehangat di Korea, aah, aku sangat merindukan negaraku, dan semua orang yang ada disana. Apa aku harus kembali mutasi kesana? Tapi aku belum berani berhadapan muka dengan donghae oppa dan yoona, eottokhae?

Hubungan kami terputus semenjak aku memutuskan untuk pergi ke Paris, namun aku juga tak kehilangan perkembangan mereka, kyuhyun selalu memberiku kabar tentang perkembangan kesehatan yoona, terakhir ku dengar ia akan mengunjungi yoona yang masih belum mengingat apa apa di villa putih donghae oppa dan yoona.

Sungguh aku sangat merindukan sahabatku itu, rindu rasa sayang dan perhatiannya padaku yang selalu mengkedepankan kepentinganku dibanding kebutuhannya sendiri.

Hari ini cukup melelahkan, setelah selesai mempresentasikan proyekku dalam rancangan terbaru musim ini jadwalku masih cukup padat, masih ada rapat dengan direktur untuk membahas proyek lainnya.

“jessica, kau kamu kemana? 30 menit lagi kita akan ada rapat” ujar yuri, rekan kerjaku yang juga warga Negara korea.

“ne? ah, aku ke toilet sebentar”

“oh, arraseo”

Ku patut diriku di depan cermin, memoleskan lipstick yang sudah memudar.

Hah, kenapa sama sekali tak ada semangat hari ini, apa karena aku begitu merindukan korea?

Ddrrtt… drrtt…

Ku lihat nomor yang tertera di layar ponselku, nomor asing. Nugu? Tapi kode negaranya nomor korea.

“hallo?”

“yeoboseyo?” bahasa korea?

“eo? Hangugeo? nuguseyo”

“sica ya, babo yeoja! Apakah kau tidak mengenali suaraku?”

Ini, suara ini?

“yoong? Benarkan ini yoongie?”

“babo sica! Ini aku, siapa lagi?”

“YOOONGIIE!!!”

“ya! Kau ingin membuatku tuli eo? Hiks”

“hiks… yoongie, kau sudah ingat padaku?” aku mulai terisak, tak ku pedulikan tatapan aneh dari para pengguna toilet lain, yoona menelfonku!

“eo! Ya! Bagaimana bisa kau meninggalkanku?”

“mianhe yoong, aku sangat sedih karena kau tidak mengenaliku jadi..”

“jadi kau meninggalkanku begitu? Napeun!”

“ya! Aku juga tak ingin”

“seharusnya kau menamparku atau memukuliku karena aku tak mengenalimu, jangan meninggalkanku seperti ini… hiks…”

“hiks… mana bisa aku memukuli saudaraku sendiri eo?”

“bogosipeo, jeongmal bogoshipeo”

“nado, yoongie, neomu neomu bogoshipeo”

“kalau begitu kembalikah ke korea! Babo yeoja”

“pasti aku akan pulang yoong, tapi aku masih ada kontrak disini, mian”

“jinjja? Setidaknya kau menyempatkan diri untuk pulang dan melihatku”

“ne, aku janji aku akan segera pulang yoongie

“yagsok?”

“yagsok!”

Pintu toilet terbuka dan yuri muncul dari balik pintu, ia mengisyaratkan waktu meeteng hampir tiba. Aku hanya mengangguk mengiyakan.

“geurom, aku tutup dulu telfonnya ne? aku masih di kantor

“mwo? Ini sudah malam kau masih di kantor?”

“ya! Ini paris, bukan korea

“ah, aku lupa, baiklah, jangan lupa kirim kabar padaku, ini nomorku”

“ne arasseo”

Aah, akhirnya kabar gembira ini ku dengar juga, yoona akhirnya kembali mengingatku, ku rapihkan riasanku kembali, sedikit berantakan akibat nangis nangisan tadi di telfon.

***

“sica ya, mianhe…”

“wae? kenapa kau meminta maaf yuri ya?”

“mianhae, aku tidak bisa menemanimu meeting kali ini, gwenchana? Kau bisa sendiri bukan?”

“eoh, geureom, baiklah, lagipula ini hanya pembahasan lanjutan yang tadi bukan?”

“ne, benar, tapi sica ya”

“ne?”

“tadi sekretaris direktur mengatakan lokasi rapat di ubah, beliau ingin rapat di OssekGarden kau tahu tempatnya?”

“hm, bukannya itu restoran korea?”

“betul, ku dengar pemilik saham terbesar ingin berdiskusi denganmu tentang proyek ini, jadi beliau juga akan hadir, kau akan dijemput supir nanti”

“eo, arraseo”

“hwaiting”

“gomawo yuri ya”

***

Tanpa banyak tanya aku siapkan perlengkapan untuk meeting, benar seperti yang di ucapkan yuri, sebuah mobil sudah menungguku, sukurlah, jadi aku tak perlu naik kendaraan umum karena jarak yang ku tempuh lumayan jauh.

Beberapa menit kemudian aku tiba di restoran tempat meeting kami, ah, suasana korea begitu kental disini, tiba tiba perutku jadi lapar mengingat hidangan asal negaraku ini.

Seorang pramusaji menyambutku dengan ramah dengan menggunakan pakaian khas korea.

“nona jessica?”

“benar, aku sudah ada janji”

“ne, anda sudah di tunggu, mari silahkan”

Pramusaji ini mengantarku ke ruangan yang memang khusus untuk meeting penting para pelanggannya.

“ini ruangannya nona, jika ada perlu silahkan panggil kami”

“ne, kamsahamnida”

Pelayan itu membungkuk dan pergi meninggalkanku.

Ku buka pintu ruang meeting yang akan kami gunakan, dan aku melihat ada pimpinanku disana dengan seorang yang katanya pemilik saham terbesar di perusahaan.

“sorry I’m late sir”

“ya, tidak apa apa jessica, silahkan duduk”

“thank you”

“tadi yuri mengatakan kita akan rapat dengan pemegang saham perusahaan pak, lalu diaman beliau?”

“ah, sebentar lagi beliau sampai, ku dangar kalian saling mengenal?”

“eh? benarkah?”

“ah itu dia, Mr kim, welcome”

ku balikan tubuhku untuk memberi salam pada klien sekaligus bos ku.

“hah! Neo!!”

=======================================================================

TBC.

mian kalo ceritanya gaje dan bertebaran ranjau typo disana.

kalo yang tidak menyukainya please don’t bash!

dan tolong leave comment

gomawo… *bow

sekali lagi leave comment ya chingu

5 thoughts on “I will Found Another Love – Part 1 (Sequel FF Yoonhae – Can’t You See Me)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s